Duduk
berdua di bangku taman sekolah sudah menjadi rutinitas dua sejolly yang genap menjalin asmara selama 2 tahun belakangan ini,
mereka akrab dipanggil Aya dan Ian. Siapa pun tahu, apabila bel istirahat sudah
berdering maka tak dapat dihindari jika sudut mata seisi sekolah akan menangkap
dua sosok manusia yang sedang bercengkrama mesra di atas bangku taman sekolah, di
bawah pohon mangga nan rindang mereka bersenda gurau. Namun kini, entah angin
apa dan darimana yang membuat batang hidung kedua remaja tahap akhir tersebut
sulit ditemukan dalam waktu yang bersamaan.
Hari demi hari berlalu, sekarang sudah
hari kelima mereka tak pernah tampak lagi berduaan seperti biasanya. Dari mulut
ke mulut, kabar burung bahwa kisah asmara antara Aya dan Ian sudah kandas
ditengah jalan, mulai menyebar keseluruh pelosok sekolah. Tiada yang menyangka
perihal tersebut akan terjadi, padahal Aya dan Ian sudah cukup lama menjalin
kisah asmara dan mereka juga sudah sejak lama saling mengenal satu sama lain,
yaitu sejak mereka berusia enam tahun. Dulu waktu kecil Aya dan Ian selalu
bermusuhan, saling mengejek, dan tak pernah hentinya bertengkar setiap hari
layaknya kucing dan anjing.
Berawal dari hubungan pertemanan mereka
yang kurang baik, hingga akhirnya mereka menjadi teman dekat yang sangat akrab.
Semenjak saat itu mereka menyadari bahwa telah tumbuh benih-benih cinta di hati
keduanya, alhasil mereka memutuskan untuk mengubah status mereka menjadi pacaran
yakni pada saat mereka duduk di bangku kelas 3 SMA. Setelah Aya dan Ian
berpacaran, mereka terlihat sangat akur dan kemana-mana selalu berdua, namun
kini kebersamaan dan tali cinta yang telah susah payah dibangun itu harus sirna
seketika. Banyak orang yang menilai Aya dan Ian merupakan pasangan yang serasi,
bagaimana tidak, Ian adalah salah satu siswa tampan yang paling favorit di
sekolah mereka, Ian juga merupakan siswa pintar yang aktif di berbagai bidang
dan organisasi seperti OSIS, PIK-R, dan lainnya. Sedangkan Aya adalah siswi yang
baik, pintar, rendah hati, lagi cantiknya yang tak mampu membuat mata yang
melihatnya terperanjat. Aya layaknya kembang sekolah.
****
Sebagian orang menilai, masa SMA adalah
masa paling indah sepanjang sejarah hidup manusia, dimana cintalah yang
mendominasi keindahan tersebut, namun tidak begitu halnya dengan Aya. Disaat
kebanyakan remaja terjerumus dalam kenistaan dunia yang penuh fatamorgana, Aya
malah memilih beristiqamah, lebih memantapkan hati dan diri untuk bermuhasabah
cinta kepada sang Illahi Rabbi. Aya tidak ingin dirinya ikut terbuai dalam
nikmatnya surga dunia, demi kedua orang tuanya dan atas ridha Allah SWT. Aya
mulai lebih fokus kepada pendidikannya, diiringi dengan mengikuti segala jenis
kegiatan yang berbau islami, sehingga diharapkan bisa menambah ilmu
keagamaannya yang saat ini masih dangkal.
“Meskipun
aku tidak semulia Fatimah Az-Zahra, putri kesayangan rasulullah SAW. Namun aku
juga ingin memiliki cinta yang suci seperti beliau, hingga akhir hayatku aku
ingin Allah tetap menyatukan aku dengannya sebagai sepasang kekasih sejati,
hanya itu harapku.” Sepucuk doa tersebut selalu tercurah dari bibir mungil Aya
seusai ia menjalankan kewajiban lima waktunya.
Aya merasa sangat beruntung telah ikut
dengan mama tercinta dalam suatu pengajian yang membahas tentang ‘Muhasabah
Cinta’, sebuah topik sederhana yang mampu menggentarkan hati Aya yang sempat
lengah dari perintah sang Illahi. Sepulang pengajian kalimat demi kalimat yang
dilontarkan oleh ustadz pengisi ceramah, selalu terputar di memori Aya layaknya
kaset tua yang telah usang sedang diputar. Hal itu tentu membuat hatinya merasa
gelisah. Aya menunaikan salat malamnya sebanyak empat rakaat, ia berdoa dan
menenangkan diri berharap Allah SWT. dengan murahnya memberikan hidayah
untuknya.
****
Pagi harinya, tanpa berpikir panjang Aya
sudah tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Memutuskan ikatan cinta antara
dirinya dengan Ian adalah sebuah keputusan yang tengah matang dalam hati dan
pikirannya. Bukan karena ia tak lagi mencintai Ian, namun hal ini harus
dilakukan Aya demi menjaga kesucian cintanya kepada Ian. Aya tidak ingin
perasaan cinta yang telah tertanam didalam hatinya dan Ian menjadi suatu hal yang
dibenci oleh Allah SWT. Kodratnya semua perasaan cinta itu suci, karena Allah
lah yang telah menganugerahkannya kepada setiap insan di dunia, namun ada kalanya
cinta suci itu berubah menjadi laknat bagi Allah terhadap manusia yang salah
dalam memaknai arti cinta yang sesungguhnya.
Setibanya Aya di sekolah, ternyata gerbang
sekolah sudah menantinya. Aya langsung melangkahkan kaki dengan kencang menuju
kelasnya. Belum sempat masuk kedalam kelas, mata Aya terbelalak saat ia
menangkap sosok Ian yang tepat berdiri dihadapannya. Ian melemparkan senyum termanis
pada Aya, namun tanpa sempat membalas senyuman itu Aya berlalu seketika.
“Aya, tunggu!! Kamu kenapa, Ya? Kok
pacarnya senyum malah dicuekin sih?” Tanya Ian sembari menyejajarkan langkahnya
dengan Aya.
Tanpa menghiraukan pertanyaan dari Ian,
Aya bergegas menuju ke lokalnya. Ingin rasanya Ian mengejar Aya namun
langkahnya terhenti, ia hanya dapat berdiri terpaku sambil kebingungan. Bagaimana
bisa kekasihnya itu berubah 180 derajat dalam waktu semalam. Namun pertanyaan
itu hanya berhasil singgah dikepalanya saja.
Bel pulang sekolah pun berdering, Ian
sengaja keluar kelas lebih dulu agar dapat menunggu Aya di depan gerbang
sekolah. Sudah hampir setengah jam Ian menanti Aya, namun gerangan tak kunjung
tiba.
“Hai Ian, kamu ngapain dari tadi mondar
mandir depan gerbang sekolah? Apa sekarang pekerjaanmu sudah menjadi petugas security sekolah, hah?” Tanya Andre, teman
sekelas Ian.
“Aku sedang menunggu Aya pulang, memang
kenapa?” balas Ian dengan nada datar.
“Eh, Aya? Kalau nggak salah tadi aku
lihat dia sedang di ruang perpustakaan sekolah.” Ujar Andre.
“Serius? Ya sudah kalau gitu aku mau menyusul
Aya dulu, terimakasih brother.”
Ian segera berlari menuju ruang
perpustakaan sekolah. Disana ia temui sosok gadis yang sangat ia cintai tengah
duduk sambil membaca buku pelajaran. Wajah teduhnya membuat hati Ian yang
menatap lekat wajahnya menjadi tentram. Lalu dihampirinya gadis tersebut.
”Aya, aku ingin bicara sesuatu kepadamu.”
Ujar Ian sembari mencoba meraih tangan Aya.
“Maaf Ian, tidak ada yang perlu
dibicarakan lagi, aku harus segera pergi.” Aya bangkit dari duduknya, Ian
mencoba menghalanginya.
“Ya, aku mohon tolong jelaskan dulu apa
yang telah terjadi padamu,” Pinta Ian sebelum Aya pergi meninggalkan
perpustakaan.
“Baiklah, sekarang keputusanku sudah
bulat, aku mau hubungan kita cukup berakhir sampai disini.” Ujar Aya dengan
lembut tapi tegas.
Aya pun segera pergi meninggalkan Ian
yang hanya dapat berdiam diri, terpaku memendam kecewa tatkala ucapan itu
terlontar dari bibir Aya. Ian tak habis pikir bahwa hubungannya akan berakhir
seperti ini. Sebuah hubungan yang diharapkannya dapat terus berlanjut hingga
nanti saat janji suci terucap dari bibir keduanya, ternyata harus disudahi
secepat kilat menyambar seperti ini. Tiada angin dan tiada hujan, mahligai
cinta yang telah dirinya dan Aya bangun selama ini runtuh.
****
Air mata Aya meluncur tiada hentinya
tatkala mengingat kejadian sepuluh tahun silam tersebut. Semenjak hubungannya
dengan Ian terpecah berai, ia tak pernah lagi melihat batang hidung pria itu
dan juga tak pernah lagi mendengar kabar tentangnya. Aya sempat berpikir
akankah begitu mudahnya bagi Ian untuk melupakan Aya, sedangkan dirinya sendiri
hingga saat ini masih mampu menjaga cinta sucinya untuk Ian tanpa ternodai sedikitpun,
semua dilakukannya dengan hati ikhlas karena Allah SWT.
Tepat 3 bulan yang lalu Aya berhasil
meraih gelar sarjananya, dan kini ia sedang ditempatkan di salah satu rumah
sakit terkenal di Bandung. Kini, Aya semakin mempertebal dinding keimanannya
serta lanjut berhijrah ke jalan yang lebih baik lagi. Pakaian muslimah disertai
jilbab dalam yang membalut tubuhnya menjadikannya semakin cantik dan anggun.
Muhasabah cintanya kepada Allah SWT telah mengantarkannya menjadi seorang gadis
yang begitu taat beragama. Tentunya Aya yang sekarang sangat menjadi kebanggaan
bagi kedua orang tuanya. Aya berhasil menjadi seorang anak yang berbakti kepada
orang tua serta telah menuntun mereka menuju surga-Nya.
Mama Aya bingung, mengapa disaat usia
anaknya sudah beranjak 28 tahun, tak sekali pun Aya pernah mengenalkan seorang
pria kepada Mama dan Papanya. Bukan karena apa-apa tapi hati Aya tetap bersiteguh
menunggu jawaban atas segala doa yang selalu ia curahkan disetiap sujudnya
kepada sang pencipta. Berkali-kali Mama berusaha membujuk Aya untuk dijodohkan dengan
anak dari rekan kerja Mama dan Papa, namun tak satupun yang Aya iyakan.
****
Suatu ketika saat Aya sedang bertugas di
rumah sakit, Mama meneleponnya.
“Halo, Aya? Sekarang kamu harus segera
pulang ke rumah Ya, ini penting!” Ujar Mama dengan suara tergesa-gesa.
“Apa yang terjadi, Ma? Mengapa nada
bicara Mama terdengar begitu serius?” Tanya Aya yang mulai panik.
“Nanti Mama jelaskan di rumah ya, nak.
Lebih baik kamu segera pulang.” Jawab mama.
“Iya Ma, Aya akan segera pulang. Mama
tenang dulu ya, Ma.” Mereka mengakhiri percakapan melalui telepon.
Nada bicara Mama yang sangat serius
membuat jantung Aya tak berhenti berdegup kencang. Aya pun bergegas mengakhiri
pekerjaannya dan langsung menuju ke kediamannya di Jalan Linggarjati nomor 7, kota
Bandung.
Sembari di perjalanan pulang Aya terus
berfikir yang tidak-tidak tentang apa
yang telah terjadi di rumahnya. Ketika sampai di rumah, Aya segera
berlari sambil memanggil Mama dengan dipenuhi rasa khawatir. Namun, ternyata
tidak ada terjadi apa-apa dirumahnya. Mama tertawa melihat reaksi Aya. Aya pun
bergumam kesal, ternyata sang Mama hanya mengerjainya.
“Mamaaa,… Ih, Mama sudah buat Aya sangat khawatir
tahu, Ma.” Celoteh Aya.
“Maafin Mama ya sayang, habisnya kalau
tidak begitu Mama tau kamu tidak akan pulang sekarang juga.” Jelas Mama.
“Nggak perlu sampai buat Aya khawatir
begitu juga kan, Ma!” Wajah Aya mulai cemberut. Lalu Mama mengusap kepala Aya
sambil tersenyum, kemudian memeluknya. Pelukan Mama berhasil membuat hati Aya
kembali damai.
Ternyata hal yang ingin dibicarakan oleh
Mama yaitu mengenai perjodohan Aya dengan seorang pria mapan lulusan
Universitas Al-Azhar, yang ilmu agamanya sudah tidak diragukan lagi. Kecintaan
pria tersebut terhadap Allah SWT menjadikannya sebagai sosok yang sangat taat
dan tunduk terhadap perintah-Nya, dan kini lelaki itulah yang akan menjadi
calon imam bagi Aya. Aya tertegun kala mendangar Mama menyampaikan berita
tersebut, rasa hatinya belum sanggup untuk melepaskan cintanya terhadap Ian dan
memulai kembali mencintai laki-laki lain yang bahkan bibit, bobotnya belum
banyak diketahui Aya. Entah mengapa kali ini rasanya Aya tak bisa menolak
permintaan sang Mama, Aya mengangguk patuh menerima dengan lapang dada perjodohan
itu. Aya yakin bahwa pilihan Mama adalah yang terbaik. Dan pernikahan mereka
akan segera diselenggarakan bulan depan.
****
Hari yang dinantikan pun tiba, detak
jantung Aya berdegub kian kencang menanti seorang lelaki yang tak lama lagi
akan menjadi imam baginya. Perasaan sedih menyelimuti hati Aya kala
membayangkan harapannya untuk bisa bersatu dengan Ian semakin menipis. Kini
cinta dan kasih sayangnya untuk Ian harus rela ia berikan kepada orang lain.
Pria yang hendak meminang Aya telah
duduk disampingnya, tak sedikitpun Aya menolehkan wajahnya kepada pria
tersebut, begitu pula sebaliknya, hingga kalimat ijab kabul terlontar, tak
sekalipun mereka saling bertatap muka.
Setelah ijab Kabul selesai dilaksanakan,
mata Aya mulai berair. Tak kuasa Aya menahan isak tangis yang hendak pecah
dikala kebahagiaan yang seharusnya ia rasakan dengan senyuman berubah menjadi
lautan air mata. Bersyukur adalah hal pertama yang terlintas dalam benak Aya,
kini lelaki yang selalu disebutnya dalam setiap doa, sudah resmi menjadi
imamnya. Lelaki itu yakni Bryan Nuggroho yang akrab dipanggil Ian.
Ternyata seminggu sebelum hari-H, Ian
sudah mengetahui bahwa wanita yang akan segera dipinangnya itu adalah dambaan hatinya selama ini. Ian
merasa begitu senang dan ia pun masih tak habis pikir ternyata wanita yang
sangat ia cintai itu telah berhasil diikatnya dalam sebuah janji suci tali
pernikahan. Sedangkan Aya yang tak mau tahu tentang lelaki yang menjadi calon
suaminya itu, hanya sekedar mengetahui namanya dan dimana tempat bekerjanya.
Aya tak habis pikir bahwa pria tersebut ternyata Ian sang pujaan hatinya, sebab
Mama hanya memberi tahu bahwa calon suami Aya bernama Ryan. Yah, memang Ian
merupakan panggilan akrab bagi Ryan, yang nama aslinya adalah Bryan.
Bahagia yang melebihi apapun tampak
jelas dari keduanya, mata mereka berbinar-binar saat bertatap pandang melepas
kerinduan setelah berpisah selama sepuluh tahun lamanya. Janji Allah itu ada,
dan kini meraka merasakan sendiri bahwa jalan Allah lebih indah dari apa yang telah
direncanakan oleh manusia. Cinta kepada Allah adalah yang paling utama. Muhasabah
cinta Aya telah menuntunnya kepada cinta sejati dengan cara yang suci.
#MuhasabahCinta #CintaBahagia #CintakarenaAllah #KisahCintaRemajaMuslimah