Kamis, 29 Maret 2018

Muhasabah Cintaku



       Duduk berdua di bangku taman sekolah sudah menjadi rutinitas dua sejolly yang genap menjalin asmara selama 2 tahun belakangan ini, mereka akrab dipanggil Aya dan Ian. Siapa pun tahu, apabila bel istirahat sudah berdering maka tak dapat dihindari jika sudut mata seisi sekolah akan menangkap dua sosok manusia yang sedang bercengkrama mesra di atas bangku taman sekolah, di bawah pohon mangga nan rindang mereka bersenda gurau. Namun kini, entah angin apa dan darimana yang membuat batang hidung kedua remaja tahap akhir tersebut sulit ditemukan dalam waktu yang bersamaan.
       Hari demi hari berlalu, sekarang sudah hari kelima mereka tak pernah tampak lagi berduaan seperti biasanya. Dari mulut ke mulut, kabar burung bahwa kisah asmara antara Aya dan Ian sudah kandas ditengah jalan, mulai menyebar keseluruh pelosok sekolah. Tiada yang menyangka perihal tersebut akan terjadi, padahal Aya dan Ian sudah cukup lama menjalin kisah asmara dan mereka juga sudah sejak lama saling mengenal satu sama lain, yaitu sejak mereka berusia enam tahun. Dulu waktu kecil Aya dan Ian selalu bermusuhan, saling mengejek, dan tak pernah hentinya bertengkar setiap hari layaknya kucing dan anjing.
       Berawal dari hubungan pertemanan mereka yang kurang baik, hingga akhirnya mereka menjadi teman dekat yang sangat akrab. Semenjak saat itu mereka menyadari bahwa telah tumbuh benih-benih cinta di hati keduanya, alhasil mereka memutuskan untuk mengubah status mereka menjadi pacaran yakni pada saat mereka duduk di bangku kelas 3 SMA. Setelah Aya dan Ian berpacaran, mereka terlihat sangat akur dan kemana-mana selalu berdua, namun kini kebersamaan dan tali cinta yang telah susah payah dibangun itu harus sirna seketika. Banyak orang yang menilai Aya dan Ian merupakan pasangan yang serasi, bagaimana tidak, Ian adalah salah satu siswa tampan yang paling favorit di sekolah mereka, Ian juga merupakan siswa pintar yang aktif di berbagai bidang dan organisasi seperti OSIS, PIK-R, dan lainnya. Sedangkan Aya adalah siswi yang baik, pintar, rendah hati, lagi cantiknya yang tak mampu membuat mata yang melihatnya terperanjat. Aya layaknya kembang sekolah.
****
       Sebagian orang menilai, masa SMA adalah masa paling indah sepanjang sejarah hidup manusia, dimana cintalah yang mendominasi keindahan tersebut, namun tidak begitu halnya dengan Aya. Disaat kebanyakan remaja terjerumus dalam kenistaan dunia yang penuh fatamorgana, Aya malah memilih beristiqamah, lebih memantapkan hati dan diri untuk bermuhasabah cinta kepada sang Illahi Rabbi. Aya tidak ingin dirinya ikut terbuai dalam nikmatnya surga dunia, demi kedua orang tuanya dan atas ridha Allah SWT. Aya mulai lebih fokus kepada pendidikannya, diiringi dengan mengikuti segala jenis kegiatan yang berbau islami, sehingga diharapkan bisa menambah ilmu keagamaannya yang saat ini masih dangkal.
       “Meskipun aku tidak semulia Fatimah Az-Zahra, putri kesayangan rasulullah SAW. Namun aku juga ingin memiliki cinta yang suci seperti beliau, hingga akhir hayatku aku ingin Allah tetap menyatukan aku dengannya sebagai sepasang kekasih sejati, hanya itu harapku.” Sepucuk doa tersebut selalu tercurah dari bibir mungil Aya seusai ia menjalankan kewajiban lima waktunya.
       Aya merasa sangat beruntung telah ikut dengan mama tercinta dalam suatu pengajian yang membahas tentang ‘Muhasabah Cinta’, sebuah topik sederhana yang mampu menggentarkan hati Aya yang sempat lengah dari perintah sang Illahi. Sepulang pengajian kalimat demi kalimat yang dilontarkan oleh ustadz pengisi ceramah, selalu terputar di memori Aya layaknya kaset tua yang telah usang sedang diputar. Hal itu tentu membuat hatinya merasa gelisah. Aya menunaikan salat malamnya sebanyak empat rakaat, ia berdoa dan menenangkan diri berharap Allah SWT. dengan murahnya memberikan hidayah untuknya.
****
       Pagi harinya, tanpa berpikir panjang Aya sudah tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Memutuskan ikatan cinta antara dirinya dengan Ian adalah sebuah keputusan yang tengah matang dalam hati dan pikirannya. Bukan karena ia tak lagi mencintai Ian, namun hal ini harus dilakukan Aya demi menjaga kesucian cintanya kepada Ian. Aya tidak ingin perasaan cinta yang telah tertanam didalam hatinya dan Ian menjadi suatu hal yang dibenci oleh Allah SWT. Kodratnya semua perasaan cinta itu suci, karena Allah lah yang telah menganugerahkannya kepada setiap insan di dunia, namun ada kalanya cinta suci itu berubah menjadi laknat bagi Allah terhadap manusia yang salah dalam memaknai arti cinta yang sesungguhnya.
       Setibanya Aya di sekolah, ternyata gerbang sekolah sudah menantinya. Aya langsung melangkahkan kaki dengan kencang menuju kelasnya. Belum sempat masuk kedalam kelas, mata Aya terbelalak saat ia menangkap sosok Ian yang tepat berdiri dihadapannya. Ian melemparkan senyum termanis pada Aya, namun tanpa sempat membalas senyuman itu Aya berlalu seketika.
       “Aya, tunggu!! Kamu kenapa, Ya? Kok pacarnya senyum malah dicuekin sih?” Tanya Ian sembari menyejajarkan langkahnya dengan Aya.
       Tanpa menghiraukan pertanyaan dari Ian, Aya bergegas menuju ke lokalnya. Ingin rasanya Ian mengejar Aya namun langkahnya terhenti, ia hanya dapat berdiri terpaku sambil kebingungan. Bagaimana bisa kekasihnya itu berubah 180 derajat dalam waktu semalam. Namun pertanyaan itu hanya berhasil singgah dikepalanya saja.
       Bel pulang sekolah pun berdering, Ian sengaja keluar kelas lebih dulu agar dapat menunggu Aya di depan gerbang sekolah. Sudah hampir setengah jam Ian menanti Aya, namun gerangan tak kunjung tiba.
       “Hai Ian, kamu ngapain dari tadi mondar mandir depan gerbang sekolah? Apa sekarang pekerjaanmu sudah menjadi petugas security sekolah, hah?” Tanya Andre, teman sekelas Ian.
       “Aku sedang menunggu Aya pulang, memang kenapa?” balas Ian dengan nada datar.
       “Eh, Aya? Kalau nggak salah tadi aku lihat dia sedang di ruang perpustakaan sekolah.” Ujar Andre.
      “Serius? Ya sudah kalau gitu aku mau menyusul Aya dulu, terimakasih brother.”
       Ian segera berlari menuju ruang perpustakaan sekolah. Disana ia temui sosok gadis yang sangat ia cintai tengah duduk sambil membaca buku pelajaran. Wajah teduhnya membuat hati Ian yang menatap lekat wajahnya menjadi tentram. Lalu dihampirinya gadis tersebut.
       ”Aya, aku ingin bicara sesuatu kepadamu.” Ujar Ian sembari mencoba meraih tangan Aya.
       “Maaf Ian, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, aku harus segera pergi.” Aya bangkit dari duduknya, Ian mencoba menghalanginya.
       “Ya, aku mohon tolong jelaskan dulu apa yang telah terjadi padamu,” Pinta Ian sebelum Aya pergi meninggalkan perpustakaan.
       “Baiklah, sekarang keputusanku sudah bulat, aku mau hubungan kita cukup berakhir sampai disini.” Ujar Aya dengan lembut tapi tegas.
       Aya pun segera pergi meninggalkan Ian yang hanya dapat berdiam diri, terpaku memendam kecewa tatkala ucapan itu terlontar dari bibir Aya. Ian tak habis pikir bahwa hubungannya akan berakhir seperti ini. Sebuah hubungan yang diharapkannya dapat terus berlanjut hingga nanti saat janji suci terucap dari bibir keduanya, ternyata harus disudahi secepat kilat menyambar seperti ini. Tiada angin dan tiada hujan, mahligai cinta yang telah dirinya dan Aya bangun selama ini runtuh.
****
       Air mata Aya meluncur tiada hentinya tatkala mengingat kejadian sepuluh tahun silam tersebut. Semenjak hubungannya dengan Ian terpecah berai, ia tak pernah lagi melihat batang hidung pria itu dan juga tak pernah lagi mendengar kabar tentangnya. Aya sempat berpikir akankah begitu mudahnya bagi Ian untuk melupakan Aya, sedangkan dirinya sendiri hingga saat ini masih mampu menjaga cinta sucinya untuk Ian tanpa ternodai sedikitpun, semua dilakukannya dengan hati ikhlas karena Allah SWT.
       Tepat 3 bulan yang lalu Aya berhasil meraih gelar sarjananya, dan kini ia sedang ditempatkan di salah satu rumah sakit terkenal di Bandung. Kini, Aya semakin mempertebal dinding keimanannya serta lanjut berhijrah ke jalan yang lebih baik lagi. Pakaian muslimah disertai jilbab dalam yang membalut tubuhnya menjadikannya semakin cantik dan anggun. Muhasabah cintanya kepada Allah SWT telah mengantarkannya menjadi seorang gadis yang begitu taat beragama. Tentunya Aya yang sekarang sangat menjadi kebanggaan bagi kedua orang tuanya. Aya berhasil menjadi seorang anak yang berbakti kepada orang tua serta telah menuntun mereka menuju surga-Nya.
       Mama Aya bingung, mengapa disaat usia anaknya sudah beranjak 28 tahun, tak sekali pun Aya pernah mengenalkan seorang pria kepada Mama dan Papanya. Bukan karena apa-apa tapi hati Aya tetap bersiteguh menunggu jawaban atas segala doa yang selalu ia curahkan disetiap sujudnya kepada sang pencipta. Berkali-kali Mama berusaha membujuk Aya untuk dijodohkan dengan anak dari rekan kerja Mama dan Papa, namun tak satupun yang Aya iyakan.
****
       Suatu ketika saat Aya sedang bertugas di rumah sakit, Mama meneleponnya.
      “Halo, Aya? Sekarang kamu harus segera pulang ke rumah Ya, ini penting!” Ujar Mama dengan suara tergesa-gesa.
       “Apa yang terjadi, Ma? Mengapa nada bicara Mama terdengar begitu serius?” Tanya Aya yang mulai panik.
       “Nanti Mama jelaskan di rumah ya, nak. Lebih baik kamu segera pulang.” Jawab mama.
       “Iya Ma, Aya akan segera pulang. Mama tenang dulu ya, Ma.” Mereka mengakhiri percakapan melalui telepon.
       Nada bicara Mama yang sangat serius membuat jantung Aya tak berhenti berdegup kencang. Aya pun bergegas mengakhiri pekerjaannya dan langsung menuju ke kediamannya di Jalan Linggarjati nomor 7, kota Bandung.
      Sembari di perjalanan pulang Aya terus berfikir yang tidak-tidak tentang apa  yang telah terjadi di rumahnya. Ketika sampai di rumah, Aya segera berlari sambil memanggil Mama dengan dipenuhi rasa khawatir. Namun, ternyata tidak ada terjadi apa-apa dirumahnya. Mama tertawa melihat reaksi Aya. Aya pun bergumam kesal, ternyata sang Mama hanya mengerjainya.
       “Mamaaa,… Ih, Mama sudah buat Aya sangat khawatir tahu, Ma.” Celoteh Aya.
       “Maafin Mama ya sayang, habisnya kalau tidak begitu Mama tau kamu tidak akan pulang sekarang juga.” Jelas Mama.
       “Nggak perlu sampai buat Aya khawatir begitu juga kan, Ma!” Wajah Aya mulai cemberut. Lalu Mama mengusap kepala Aya sambil tersenyum, kemudian memeluknya. Pelukan Mama berhasil membuat hati Aya kembali damai.
       Ternyata hal yang ingin dibicarakan oleh Mama yaitu mengenai perjodohan Aya dengan seorang pria mapan lulusan Universitas Al-Azhar, yang ilmu agamanya sudah tidak diragukan lagi. Kecintaan pria tersebut terhadap Allah SWT menjadikannya sebagai sosok yang sangat taat dan tunduk terhadap perintah-Nya, dan kini lelaki itulah yang akan menjadi calon imam bagi Aya. Aya tertegun kala mendangar Mama menyampaikan berita tersebut, rasa hatinya belum sanggup untuk melepaskan cintanya terhadap Ian dan memulai kembali mencintai laki-laki lain yang bahkan bibit, bobotnya belum banyak diketahui Aya. Entah mengapa kali ini rasanya Aya tak bisa menolak permintaan sang Mama, Aya mengangguk patuh menerima dengan lapang dada perjodohan itu. Aya yakin bahwa pilihan Mama adalah yang terbaik. Dan pernikahan mereka akan segera diselenggarakan bulan depan.
****
       Hari yang dinantikan pun tiba, detak jantung Aya berdegub kian kencang menanti seorang lelaki yang tak lama lagi akan menjadi imam baginya. Perasaan sedih menyelimuti hati Aya kala membayangkan harapannya untuk bisa bersatu dengan Ian semakin menipis. Kini cinta dan kasih sayangnya untuk Ian harus rela ia berikan kepada orang lain.
       Pria yang hendak meminang Aya telah duduk disampingnya, tak sedikitpun Aya menolehkan wajahnya kepada pria tersebut, begitu pula sebaliknya, hingga kalimat ijab kabul terlontar, tak sekalipun mereka saling bertatap muka.
       Setelah ijab Kabul selesai dilaksanakan, mata Aya mulai berair. Tak kuasa Aya menahan isak tangis yang hendak pecah dikala kebahagiaan yang seharusnya ia rasakan dengan senyuman berubah menjadi lautan air mata. Bersyukur adalah hal pertama yang terlintas dalam benak Aya, kini lelaki yang selalu disebutnya dalam setiap doa, sudah resmi menjadi imamnya. Lelaki itu yakni Bryan Nuggroho yang akrab dipanggil Ian.
       Ternyata seminggu sebelum hari-H, Ian sudah mengetahui bahwa wanita yang akan segera dipinangnya  itu adalah dambaan hatinya selama ini. Ian merasa begitu senang dan ia pun masih tak habis pikir ternyata wanita yang sangat ia cintai itu telah berhasil diikatnya dalam sebuah janji suci tali pernikahan. Sedangkan Aya yang tak mau tahu tentang lelaki yang menjadi calon suaminya itu, hanya sekedar mengetahui namanya dan dimana tempat bekerjanya. Aya tak habis pikir bahwa pria tersebut ternyata Ian sang pujaan hatinya, sebab Mama hanya memberi tahu bahwa calon suami Aya bernama Ryan. Yah, memang Ian merupakan panggilan akrab bagi Ryan, yang nama aslinya adalah Bryan.
       Bahagia yang melebihi apapun tampak jelas dari keduanya, mata mereka berbinar-binar saat bertatap pandang melepas kerinduan setelah berpisah selama sepuluh tahun lamanya. Janji Allah itu ada, dan kini meraka merasakan sendiri bahwa jalan Allah lebih indah dari apa yang telah direncanakan oleh manusia. Cinta kepada Allah adalah yang paling utama. Muhasabah cinta Aya telah menuntunnya kepada cinta sejati dengan cara yang suci.

#MuhasabahCinta #CintaBahagia #CintakarenaAllah #KisahCintaRemajaMuslimah

Let's Fight!!!

Hey,... Kamu yang sedang duduk termenung! Coba lihat pada cermin itu, apakah kamu bisa melihat masa depanmu? Nah, enggak kan,... Lantas,...